Rambu Solo’

Artinya upacara/pesta pemakaman adat Toraja. Kenapa disebut pesta? karena memang benar-benar pesta. Katanya, pesta pemakaman adat Toraja ini unik, the one and only. Jadi oleh-olehnya cerita aja ya!🙂

Akhirnya aku berangkat juga ke Toraja menghadiri pemakaman Oma yang dipanggil Tuhan beberapa minggu lalu. Disana aku belajar banyak tentang adat-adat Toraja yang ternyata “waooow” dan “ribet”. Sebagai anak setengah Toraja yang lahir dan besar di Jawa, aku minim pengetahuan tentang Toraja. Bahasa daerahnya pun, aku cuma tahu “kumande” yang artinya “makan”. #maafkan

2014-07-18 15.49.39

Tongkonan tua, tujuan wisata. Ada bule! #terus?

2014-07-18 15.43.05

Huge!

Gua batu tempat menaruh jenazah. Ada yang petinya digantung di atas, ada yang dimasukkan ke dalam lubang batu.

Gua batu tempat menaruh jenazah. Ada yang petinya digantung di atas, ada yang dimasukkan ke dalam lubang batu.

"Kandaure" in process. Buat satu set butuh sebulan dan harganya bisa setengah jutaan. Tiap warna, jumlah butiran manik-manik, kepangan dan cara pakainya ada maknanya!

“Kandaure” in process. Buat satu set butuh sebulan dan harganya bisa setengah jutaan. Tiap warna, jumlah butiran manik-manik, kepangan dan cara pakainya ada maknanya!

Pesta adat untuk Oma kami kata orang sana mungkin dibilang cukup sederhana, padahal buat kami yang mengadakan dan membiayai itu.. capek juga. Tapi dijalani sebagai ungkapan terimakasih untuk Oma buat yang terakhir kali. Disana ada tetua adat yang akan memutuskan secara musyawarah mengenai berapa kerbau yang dipotong, berdasar status keluarga almarhum, dan lain-lain. Dari situ didapatkan syarat keluarga kami harus memotong minimal 12 kerbau karena anaknya ada 9 dan saudaranya ada 3. Alhasil 14 kerbau dan teman-temannya dikorbankan, lalu dibagikan ke semua warga. Ada juga yang dilelang untuk dipersembahkan ke warga lingkungan dan gereja.

Pesta berjalan sekitar 2-3 hari. Sebentar kan? Katanya kalau keluarga dengan status sosial yang sangat tinggi bisa memakan waktu lebih lama dan kerbau lebih banyak juga. Belum lagi kalau kerbaunya kerbau bule, alias belang putih. Namanya “Tedong Bonga”. Harganya bisa ratusan juta. Ada syarat minimal kerbau yang dipotong, tapi tidak ada jumlah maksimalnya. Jadi mau potong ribuan kerbau juga silakan kalau keluarganya mau. *glek* Pantas kalau keluarga yang mau mengadakan pesta adat besar-besaran perlu waktu cukup lama untuk mempersiapkan semuanya hingga bertahun-tahun disimpan baru jenazahnya bisa dipestakan.

10483088_10204372640775683_6048632871901129705_o

Biasanya polos, tapi kali ini Tongkonan sedang dihiasi kain-kain. Yang khas dari Toraja itu ukirannya.

"Lantang" alias saung-saung bernomor untuk tempat tinggal sementara para tamu selama pesta.

“Lantang” alias saung-saung bernomor untuk tempat tinggal sementara para tamu selama pesta.

Baru saja sampai setelah sekitar 24 jam perjalanan ke lokasi, aku dan Sanni langsung diseret ibu-ibu ke Tongkonan, buat didandani. Usut punya usut, ternyata semua cucu Oma yang hadir diminta untuk jadi penerima tamu. Tugasnya senyum, jalan keliling mengekor di belakang ketua adat sambil mengantar tamu, hidangan, dan keluarga ke saung-saung. Tiap ada rombongan tamu yang datang, akan diperkenalkan melalui speaker dan sambil si bapak berceloteh dalam bahasa Toraja menjelaskan silsilah hubungan keluarga tersebut dengan almarhum, kami berjalan melewati “lapangan” utama. Semua mata tertuju padamu, kayak di red carpet. Nah! Believe it or not, selain jaga barang berharga, jagalah sendal jepit anda karena sering menghilang tiba-tiba.

934797_10204372637975613_7211288410618067205_n

Me! Pakaian adat untuk pesta pemakaman, makanya bajunya hitam. Yang dipakai di leher namanya “Kandaure”. Berat loh!

1620468_10204372643015739_9207934525849929384_n

Sama sepupu-sepupu dan mama-mama. Di belakang kami sedang ada aksi pembunuhan.. kerbau.

Selama pesta, semua terlihat senang-senang saja. Inilah tujuan pesta, untuk menghibur supaya tidak terlarut dalam suasana duka. Katanya, air mata hanya boleh menetes 2 kali. Saat orang meninggal, dan saat dimakamkan. Sisanya, harus tetap bersukacita. Adu kerbau, potong kerbau, lelang, tari-tarian Ma’badong, makan, makan, makan. Hati-hati hipertensi!

Akhirnya setelah 3 hari pesta, acara ditutup dengan kebaktian. Semua anak cucu berpakaian serba hitam (semua yang datang juga sih) duduk di bawah, dekat peti. Yang bikin terharu, tepat saat anak-anak Oma sedang mempersembahkan lagu, turun hujan. Peti Oma diarak keliling sawah sambil digoyangkan, ditarik, diulur, diiringi siulan dan lengkingan khas Toraja. Ribut deh pokoknya. Oma tidak dimakamkan di gua-gua batu. Tetapi di Patane keluarga, sebuah bangunan kecil satu ruang. Anak cucu banyak yang menangis lagi, tapi katanya untuk masuk melihat Patane, menangis itu pamali. Aku pun berkesempatan melihatnya. Peti hanya diletakkan berderet, jadi tidak dikubur dalam tanah. Meskipun begitu, tidak ada bau sama sekali. Disitulah, di tengah peti Opa dan anaknya yang ke-2, tempat peristirahatan Oma yang terakhir. Selesai sudah rangkaian pesta adat ini. Semua jerih lelah dan pengorbanan anak cucu Oma pastinya tidak sebanding dengan kasih dan doa beliau yang tidak putus-putus buat kami. May you rest in peace, Oma.. :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s