9 Juli 2014

Tanggal sembilan. Ada banyak hal terjadi di hari itu. Tepat tanggal itu, diadakan pemilihan presiden RI. Ya, ini pun kali pertama aku ikut dalam pemilihan presiden. Serangan Israel atas Gaza. Lalu, semifinal piala dunia di Brazil yang menghebohkan, dimana Jerman mengalahkan tuan rumah dengan skor 7-1. Sesungguhnya, ada 1 lagi kejadian tak terlupakan bagi keluarga besarku. Terutama untuk papa.

Kejadiannya dini hari. Kebetulan keluarga kami sedang lengkap berkumpul di rumah Sukabumi. Tentu untuk menggunakan hak pilih kami di pilpres, makanya kami semua para perantau pulang ke rumah. Pukul 03.00, aku dan adikku, Danni, sedang di ruang TV untuk menonton piala dunia. Aku yang biasanya tidak pernah mengikuti, entah kenapa di hari itu bertekad untuk menonton sejak semifinal. Skor sudah 5-0 di 30 menit pertama. Aku asyik chatgroup dengan teman-teman sejurusanku. Cukup banyak yang menonton piala dunia, karena waktunya tepat dengan waktu sahur.

Mungkin karena kami berdua agak ribut di ruang TV, papa terbangun. Papa memang bilang sebelumnya akan bangun untuk nonton. Papa bergabung, sambil menelepon keluarganya di Toraja yang sedang menunggu Oma di rumah sakit. Di usia lanjutnya, Oma mengalami pendarahan dalam. Tekanan darah dan Hb turun drastis sehingga harus dirawat dan ditransfusi darah sejak sehari sebelumnya. Awalnya papa hanya menelepon untuk menanyakan kabar, ngobrol soal bola bersama adiknya yang bungsu. Tapi percakapan di telepon berubah menjadi kepanikan. Di ujung sana, terdengar saudara-saudara papa sedang panik.

“Mama.. Mama..” sesekali terdengar isak tangis. Raut wajah papa berubah. Mereka berbicara dalam bahasa Toraja yang aku tidak mengerti sama sekali. Tapi jelas. Dari wajah papa aku tahu kalau situasinya gawat.

“Oma Manta sedang kritis.” Aku lupa kalau aku sedang chatting dengan teman-teman. Lupa kalau Jerman sedang mempermainkan Brazil. Bahkan skornya sudah 6-0. Aku bingung harus bagaimana. Perasaan sudah tidak enak. Mama terbangun, bergabung dengan kami. Tidak lama, papa menelepon keluarganya lagi. Hanya terdengar suara tante terisak-isak.

Oma dipanggil Tuhan. Aku dan mama langsung menghambur ke samping papa, niatnya untuk menghibur tapi justru kami-lah yang menangis. Papa sibuk menelepon sana-sini memberitahukan kabar ke keluarga besar. Abangku, Sanni, dibangunkan. Kami semua berkumpul di ruang TV, diam. Hanya suara papa menelepon keluarganya. Hampir satu jam berlalu. Skor sudah 7-0. Papa sepertinya mencoba mencairkan suasana dengan bertanya soal pertandingan bola dan mengeraskan volume TV. Entah kenapa itu justru membuat aku makin sedih. Aku tahu papa pasti terpukul. Beliau kini yatim piatu. Herannya, 2 hari sebelumnya entah kenapa Papa bercanda dengan aku, “kapan kaka mau ketemu Oma?”. Dan di sore harinya ada kabar kalau Oma sakit.

Kosan sepi. Mungkin teman-teman yang lain sedang pulang kampung untuk pilpres. Apalagi ini sudah libur semester. Aku dan Sanni tidak ikut ke Toraja menghadiri pemakaman Oma. Segera setelah mencoblos, kami berangkat ke Bandung. Papa mau aku dan Sanni mengerjakan tugas dan pekerjaan kami masing-masing saja, karena perjalanan dan pemakamannya akan makan waktu cukup lama. Padahal aku ingin sekali ikut, mau melihat Oma buat yang terakhir kalinya. Mau minta maaf karena tidak bisa menepati janji diwisuda dan menjadi orang sukses dulu sebelum Oma pergi. Mau ada di samping papa. Sayangnya, situasinya tidak memungkinkan.

Aku bersyukur punya Oma yang tangguh. Beliau meninggal di usia 83 tahun. Dari cerita-cerita papa dan saudara-saudaranya, aku tahu kalau Oma Manta adalah wanita yang luar biasa. Beliau dapat mendampingi suaminya yang seorang tentara, menghidupi 9 anak di masa-masa sulit. Oma kuat. Bahkan di masa tuanya, ia masih melakukan pekerjaan rumah sendiri. Oma mandiri dan sangat tidak mau menyusahkan orang lain, bahkan anak-anaknya sendiri. Yang paling penting, beliau takut akan Tuhan. Kami selalu dinasehati untuk mengandalkan Tuhan. Beliau tidak henti-hentinya berdoa buat keluarga, anak cucunya. Di rumahku ada foto Oma dan Opa saat mereka masih muda. Kata orang-orang, Oma sangat mirip denganku. Semoga ketangguhan Oma juga diwariskan buat cucunya ini ya🙂

Sekarang Oma sudah bahagia bersama Tuhan. Pasti disana beliau sudah bertemu dengan Opa. Semoga anak cucunya selalu bersatu, tidak terpecah oleh masalah apapun. Supaya, Oma bisa tersenyum tenang disana :’)

Oma Manta

In Memoriam,

Maria Liku Manta

We love you, but God loves you most. Rest in peace, Oma!
[9 anak, 27 cucu, 8 cicit.]

One thought on “9 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s