Selamat Jalan, Oma..

“Kindness costs nothing, yet it is a most precious gift.”
-Katrina Mayer-

Hari ini hujan. Katanya, kalau ada orang baik yang meninggal dunia akan turun hujan saat pemakamannya. Terlepas dari mitos itu, beliau memang baik buatku.

Masih teringat 4 tahun yang lalu saat aku baru masuk ke kost. Beliau sudah tua, umurnya 80an. Rambut putih semua, kulit keriput, tapi beliau cantik. Di rumahnya banyak foto-foto saat beliau masih muda. Ada satu foto dimana beliau sedang ikut kontes kecantikan masa itu. Anak-anak kost memanggilnya Oma, karena seperti oma sendiri. Kebetulan kamarku yang lama berada tepat di samping bagian rumahnya. Hujan-hujan besar begini, Oma pasti menengok aku dan bertanya,” neng, kamarnya ada yang bocor?”

Beliau juga sepertinya tidak mengambil banyak untung dari sewa kost. Untuk rumah yang berada di jalan besar, harga sewa kost ini termasuk murah. Padahal harga BBM sudah naik. Oma juga sabar kalau ada yang terlambat membayar uang sewa, tidak menagih.

Mungkin karena kamarku yang terdekat itu, Oma sering mengajak aku ikut makan bersamanya di dalam rumah sambil bercerita tentang masa lalu. Oma tinggal seorang diri. Suaminya sudah meninggal dan anaknya bekerja di kota lain namun jarang pulang. Beliau hanya ditemani oleh pembantu dan kami anak-anak kost. Meskipun ada pembantu, beliau sangat mandiri. Mencuci baju sendiri, masak sendiri, menjahit, semuanya sendiri.

Kemudian, aku harus pindah kamar. Sejak itu, aku jarang sekali bertemu Oma. Paling saat aku membayar uang sewa kost dan kalau kebetulan bertemu di ruang tamu.  Makin lama, aku makin jarang bertemu beliau. Hingga sebulan yang lalu, aku diberitahu oleh pembantu kost kalau Oma sudah seminggu sakit dan dirawat di rumah sakit. Pantas saja kost jadi hening sekali. Beberapa kali ambulance RS Borromeus datang ke kost untuk membawa pulang Oma atau membawa Oma ke RS lagi. Katanya, Oma tidak mau makan, tidak mau bicara. Badannya makin lemah. Aku sempat menengok Oma saat beliau dirawat di rumah. Oma yang dulunya lincah dan cerewet, saat itu terbaring lemah di kasur. Selang menempel dimana-mana, kurus, tidak berbicara sepatah katapun. Aku hanya sebentar, hanya meminta beliau untuk makan yang banyak supaya cepat sembuh. Di depan kasurnya, dipajang karton berisi ucapan dari semua anak kost. Kami berharap yang terbaik untuknya.

Akhirnya, kemarin Oma menghembuskan nafas yang terakhir. Aku tidak pernah berharap melihat bendera kuning di gerbang kostku. Yang aku bayangkan, suatu saat Oma akan memeluk aku saat aku pulang memakai toga. Benar kata pepatah, “Some people come into your life and you know you will never be able to replace them just when they left.” Aku tidak ingat apa pesan terakhir yang pernah beliau sampaikan buatku. Yang pasti, aku akan selalu ingat kebaikannya. Selamat jalan Oma!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s