Sukacita

2 Peter 1:8

Selama sekitar 4 bulan ini, aku bergabung bersama beberapa kawan baru dalam sebuah kepanitiaan. Kebanyakan isinya adalah peserta RPKN di Bali beberapa bulan yang lalu. Kami mengurus perayaan Natal, dan selama 2 bulan terakhir, kami menyiapkan acara Retreat Navigator Kampus Bandung. Untuk pertama kalinya aku ditunjuk menjadi bendahara setelah sekian lama dalam organisasi atau kepanitiaan tidak jauh-jauh dari kominfo, dekorasi, dan pubdok.

Sebagai bendahara, aku tahu aliran keuangan kegiatan ini. Aku tahu berapa kebutuhannya dan berapa dana yang masuk. Intinya, imanku dikocok-kocok sama Tuhan. Apalagi, aku orang realistis yang masih belum paham betul apa itu langkah iman. Tiba-tiba saja, dihadapkan pada tantangan iman sebesar ini. Saat kami bersatu dalam doa dan meminta dana di rapat mingguan, otakku terus berkata (ceritanya otak bisa ngomong) “ini gak akan cukup, mending diundur aja atau nginepnya gak usah 4 hari segala”. Tapi melihat keyakinan teman-teman, aku pun belajar beriman, mendoakan secara spesifik dan percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Pengalaman jadi bendahara disini membuatku belajar banyak hal. Terutama, melihat bukan hanya dengan mata manusia, tapi lewat mata iman.

Seminggu terakhir sebelum hari-H retreat, dana yang masuk baru sepertiganya. Di rapat kami yang terakhir itu, aku pasrah. Jumlah peserta belum sampai target, dana pun masih sangat kurang sementara divisi ini itu sudah meminta uang. Proposal sudah kami sebar, undangan dan poster-poster, pengumuman di rally mingguan, person to person, dan sebagainya. Disitu, aku sadar bahwa manusia tidak bisa lagi mengusahakan apa-apa. Yang bisa kami lakukan hanya berserah. Tuhan yang akan menyempurnakan. Dia akan menepati janji-Nya.

“Fear not, for i am with you. I am your God. I will strengthen you. I will help you. I will uphold you with my righteous right hand.”

[Isaiah 41:10]

• • •

Loncat ke hari-H retreat tanggal 28-31 Maret 2014 lalu. Jujur, aku kurang bisa fokus mengikuti sesi karena tugas operator dan mengurus pembayaran ini itu. Panitia juga ada evaluasi sampai larut malam setiap harinya, padahal kegiatan hari itu sangat padat. Namun, semua tema sesi yang diambil dari 2 Petrus 1:2-8 ini tetap mengena. Aku belajar banyak hal mengenai iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih, pemberian, dan pasangan hidup. Yang kusadari adalah, seringkali aku hanya SKSD (sok kenal sok dekat) sama Tuhan. Aku masih kurang beriman, sulit menguasai diri, tingkahku tidak merepresentasikan gambar Allah, dan banyak hal lainnya. Aku mungkin rajin ibadah, ikut Rally Navigator, punya anak rohani, namun hidupku masih banyak kekurangannya di mata manusia, apalagi di mata Tuhan. Aku bersyukur dapat diingatkan kembali mengenai itu semua di sesi Firman Tuhan ini.

Aku juga bersyukur bertemu banyak kawan baru. Aku memiliki teman sekamar yang luar biasa: Mela, Yuli, Tania, dan Lydie. Aku banyak belajar dari HPDT mereka, juga pengalaman hidup yang mereka bagikan di sela-sela waktu tidur dan saat teduh. Aku juga bersyukur memiliki teman sekelompok yang luar biasa. Awalnya krik-krik, tapi dengan induksi outbond beberapa jam saja sudah kompak. Aku jadi ingat saat rapat panitia suatu kali, setiap orang diminta menuliskan sebuah kata yang menjadi harapan kami sebagai panitia dalam acara ini. Melihat keceriaan mereka dibalik wajah memerah kepanasan, melihat semangat mereka dalam mengikuti setiap sesi, melihat mereka menikmati interaksi dengan kawan baru, melihat kesungguhan dan kerelaan mereka membayar harga, rasanya terpenuhi sudah harapanku:

“Sukacita.”

• • •

Tidak sia-sia berdoa. Tidak sia-sia tidur larut malam demi kegiatan yang lebih baik di esok hari. Tidak sia-sia turun 2 jam dari Gambung ke Soreang jam 6 pagi demi mencari sepetak ATM BCA. Tidak sia-sia berpanas-panas ria hingga kulit perih terkelupas. Tidak sia-sia mengurangi sedikit waktu tidur. Tidak sia-sia aku menghabiskan hari libur bersama kawan-kawan Navigator ketimbang pulang kampung. Tidak sia-sia jadi bendahara. Tidak ada yang sia-sia. Semuanya berharga untukku & semoga berharga juga untuk Bapa. Lagipula, seberat apa sih pekerjaan yang aku lakukan dibandingkan pekerjaan tangan Tuhan dalam acara ini?

Ah ya, satu lagi. Btw, kekurangan dana retreat terpenuhi persis di hari-H😀

“God is not human, that he should lie,
not a human being that he should change his mind.
Does he speak and then not act?
Does he promise and not fulfil?”

[Numbers 23:19]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s