Kelemahan atau Kekuatan?

young

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”
[Soren Kierkegaard]

Aku berasal dari Sukabumi, sebuah kota di Jawa Barat. Sejak masuk SMA, aku sudah merantau, jauh dari orang tua, sendiri, ke Yogyakarta. Disana aku belajar di sebuah sekolah Katolik khusus wanita dan tinggal di asrama. Apa yang kamu bayangkan saat mendengar sekolah Katolik, khusus wanita, dan berasrama? Disiplin? Rapi? Fokus? Mandiri? Itulah yang orangtua harapkan tentunya, sehingga mereka mengirim aku kesana. Namun, apa yang aku alami ternyata tidak sepenuhnya sama. Ya, kuakui sekolah dan asramaku sangat menerapkan yang namanya disiplin. Kami dituntut belajar banyak dengan adanya tugas-tugas baik akademik maupun non-akademik. Dan aku beruntung, bisa melewati itu semua. Ini baru aku sadari saat aku mengikuti Retreat Pekerja Kampus Nasional oleh Navigator di Bali pada awal November lalu.

Di sebuah sesi, kami belajar mengenai isu global dan isu mahasiswa beserta tantangannya. Diceritakan disana bahwa anak muda zaman ini sungguh tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Mereka butuh perhatian, kasih sayang, butuh orang-orang yang peduli pada mereka. Butuh orang-orang yang membawa kabar baik bagi mereka di tengah berbagai pencobaan seperti krisis identitas, narkoba, alkohol, seks bebas, depresi, dan lain sebagainya. Mereka ingin diterima, ingin damai, ingin perubahan, ingin pengampunan, sukacita, dan pembebasan. Tentu kita sebagai pekerja pun menginginkan hal yang sama terjadi pada mereka. Ingin apa yang dikatakan dalam Yesaya 61:1-3 benar-benar terjadi.

Dalam sharing kelompok ‘kaum’, aku ‘dipaksa’ untuk bersaksi tentang kehidupanku. Akhirnya, disana aku bercerita mengenai masa lalu SMA-ku. Aku menjadi saksi carut marut dunia remaja. Bukan maksud menjelek-jelekkan kotanya, sekolahnya, dan lain-lain loh ya. Disini aku menekankan bahwa bahkan sejak SMA pun, tantangan itu sudah ada. Ajakan teman-teman untuk pergi clubbing (aku tolak kog :)). Satu persatu teman-teman di sekolah di drop-out karena.. hamil. Aku tidak ingat berapa orang pastinya. Namun sebagai anak polos yang berasal dari keluarga ‘baik-baik saja’, ini hal yang menyakitkan buatku. Saat sesi isu global mahasiswa itu, aku memendam perasaan benci pada diri sendiri, bisa-bisanya aku lulus dengan baik dari sekolah tanpa memikirkan beberapa temanku yang gagal itu. Tanpa menolong mereka. Tanpa mengajak teman-teman yang lain untuk selalu mengingat Tuhan. Membiarkan mereka jatuh dalam pencobaan, yang penting aku tidak ikut-ikutan. Masa bodoh dengan mereka. Egois.

Saat sharing itu, aku menangis saking kecewanya pada diri sendiri. Cengeng sih. Tapi memang itu yang aku rasakan, seperti dihantam bola bowling ke dada (beuhh). Untungnya, semua abang kakak yang ada di kaum itu sangat pengertian. Mereka membuat aku berdamai dengan masa lalu itu. Aku tidak menyesal karena mereka memaksaku bercerita. Semua anggapan, pikiran-pikiran yang salah, diputarbalikkan. Aku ingat ada yang berkata, mungkin ini satu cara iblis, membuat kamu rendah diri, kecewa pada diri sendiri sehingga takut bangkit untuk memperbaiki yang salah. Ya. Aku terlalu fokus pada kesalahanku, pada kelemahanku. Padahal, ini alasan Tuhan melindungi aku dari pencobaan itu, agar aku memperhatikan generasi muda sekarang, untuk menjaga kehidupan rohani mereka agar apa yang terjadi dahulu tidak terulang kembali. 

Mereka mendukung aku sepenuh hati, membawanya ke dalam doa. Dengan bantuan mereka, aku mulai menerima kelemahan masa lalu itu dan menjadikannya sebuah kekuatan. Aku dikuatkan untuk terus memberitakan kabar baik kepada kaum muda, adikku, anak-anak PA ku, agar mereka tidak jatuh dalam pencobaan. Aku pun mengajak kita semua yang membaca postingan ini untuk menjaga generasi muda. Caranya? dengan pengetahuan tentang kebenaran, menjadi teladan/model yang baik bagi mereka, melalui kesaksian-kesaksian, pendekatan pribadi ke pribadi, dan pemuridan. Kita adalah pekerja yang dibutuhkan untuk memperbaiki dunia ini. Jadi, bangunlah! Kita adalah kabar baik itu. Semangat!🙂

1397413_10151996472980818_790243700_o

Di RPKN 2013, setiap sesi sungguh memberkati. Para pembicara dan pembimbing disana sangat luar biasa. Aku mendapat dorongan untuk menjadi pekerja yang lebih baik lagi di kampusku. Teman-teman dari regional lain pun luar biasa. Aku yang awalnya datang tanpa tujuan, mendadak ditampar oleh semangat mereka, cerita tentang pengorbanan mereka mengikuti acara ini, kisah-kisah inspiratif mereka yang membangun kehidupan pemuridanku. Aku bersyukur mendapat kesempatan untuk mengikuti retreat ini. Banyak perubahan. Banyak pikiran-pikiran salah yang diperbaiki. Semangatku dipulihkan. Untuk satu tujuan: membawa kabar baik ke dalam dunia! Cerita di atas hanya satu dari banyak berkat yang aku dapatkan dari acara ini. Nanti dilanjutkan lagi deh ya. Hehe🙂

[Terimakasih untuk mata, telinga, mulut, dan hati kaum 3:  Bang Aldi, Bang Dian, Bang Eddy, Bang Efer, Kak Eny, Usi Ein, Kak Ine, Mas Nanang, dan Kak Winda, yang sudah menguatkan aku. Kalian super! Salam Yes 61!]

4 thoughts on “Kelemahan atau Kekuatan?

  1. Hanni, bravo utk tulisan kesaksiannya… luar biasa, real life, real power, real solution, real real lah… tms real madrid? Selamat menempuh perjalanan menjadi berita baik bagi orang lain….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s