The Way You Grow

2013-11-06 10.51.51

Hal pertama yang aku lakukan saat pulang ke kost setelah meninggalkan Bandung selama 5 hari adalah mengecek ‘anak-anak’. Aku cek akuarium, ternyata ada 1 anak ikan yang mati. Sedih. Tapi yang lainnya masih sehat dan segera aku beri makan. Lalu aku beranjak ke depan kamar, mengecek kedua tanamanku. Tanahnya sangat kering, tapi ternyata mereka bertumbuh dengan baik dan pesat. Baru 5 hari ditinggal, sudah muncul banyak pucuk-pucuk baru. Yah, tapi Nasturtium yang aku tanam, belum bertunas juga. Agaknya dia inilah yang ada dalam perumpamaan Tuhan Yesus, bibit yang jatuh di tanah yang tidak baik. Atau jangan-jangan bibitnya yang tidak baik? Wah harus protes ke Ace Hardware dong ini mah ._.

Melihat pertumbuhan mandiri kedua tanamanku ini, aku ingat satu hal. Bahwa kita harus tetap bertumbuh, bagaimanapun keadaannya. Apalah bagusnya tanaman ini, yang satu hanya daun-daun merambat biasa, yang satu hanya berasal dari biji semangka yang aku dapatkan dari sisa makan rujak. Bandingkan dengan bibit Nasturtium yang aku beli dengan biaya lebih dan seharusnya bisa menjadi tanaman yang sekian kali lebih cantik dari dua tanaman di atas.

Kedua tanamanku ini tetap bertumbuh walau ada masa-masa kekeringan, saat dia tidak memperoleh air sama sekali. Mereka kutaruh di luar, mungkin ada angin besar menerpa. Namun mereka tetap bertahan hingga aku kembali dan merawat mereka lagi.

Begitu juga hidup kita. Ada saatnya dimana kita harus menghadapi tantangan, masa-masa kekeringan, angin kencang yang dapat menjatuhkan iman kita untuk terus bertumbuh dalam pengharapan dan kasih-Nya. Bertahanlah, hingga pada akhirnya nanti, Dia tahu siapa yang berlari sampai garis akhir. Baca dulu 2 Timotius 4:7-8!

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”

Ah ya, mungkin perumpamaanku kurang tepat. Aku memang meninggalkan tanaman-tanaman ini sendirian. Tapi Tuhan, Dia tidak pernah meninggalkan kita sendiri. Dia selalu ada. Jadi, apa yang kita takutkan?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s