Ujian di Balik Pengurangan Subsidi BBM

Aku baru mengalami kejadian luar biasa. Di perjalanan ke persekutuan doa, aku naik angkot Kalapa-Dago dari jalan dekat kampus. Ya, saat ini sedang kisruh tentang pengurangan subsidi BBM. Harga bensin katanya naik 30%, namun rasanya tarif angkot naik 50% bahkan 100%. Dulu saat harga BBM belum naik, tarif angkot dari kampus ITB hingga Cijerah saja hanya Rp 3000. Setelah kenaikan harga BBM, Rp 3000 bisa ludes hanya untuk perjalanan dari jalan layang Balubur Town Square hingga Dukomsel. (Mungkin orang Bandung mengerti).

Nah, singkat cerita, aku naik angkot itu dan bertemu dua juniorku di kampus. Kursi penuh sesak dan jalanan macet. Dari dekat RS Boromeus, salah satu juniorku itu turun di Simpang Dago. Seingatku sebelum BBM naik, tarifnya Rp 1500. Entah berapa yang diberikan juniorku itu pada bapak supir angkot, yang pasti si supir marah-marah dan minta tambah, dengan nada dan bahasa yang menurutku sangat tidak sopan. Juniorku bersikeras, namun akhirnya menyerahkan uang agak besar dan jika dilihat-lihat, bapak supir mengenakan dia biaya Rp 3000. Langsung saja juniorku marah. “Kok tiga ribu pak? mahal amat!” Si supir dikatai seperti itu langsung meletus. “Kamu gak tahu bensin naik? kalau mau gratis ya jalan kaki! gak usah naik angkot! gak pada mikir ya kalian, gak berterimakasih!” teriak si supir. Juniorku langsung memukul kap mobil keras-keras dan pergi.

Jantung rasanya mau pecah merasakan kejadian ini. Di sepanjang jalan menuju dago atas itu, satu persatu penumpang turun dan mengalami kejadian yang sama. Bahkan seorang ibu tua pun dimarahi oleh sang supir. Kata-kata cacian, makian, dan umpatan sangat lancar keluar dari mulutnya. “Ongkos itu naiknya seribu, bukan gopek! Brengsek kalian!”, “Heh cina, sini kamu, uangnya kurang!”, “Neng! yang berdua! tiga ribu ongkosnya! sini!”, “kalau mau protes silakan sana! tukang angkot juga butuh makan! brengsek kalian yang pura-pura gak tau!”, “Kalau mau gratisan ya jalan kaki, ngapain naik angkot kalau gak mau bayar!”. Daaan ribuan makian lainnya. Kami para penumpang hanya bisa berpandangan sinis, mengelus dada. Sialnya, tujuanku Dago Pojok. Aku tinggal sendirian di dalam angkot, sambil meremas uang tiga ribuan yang sudah kusiapkan sejak aku naik angkot ini. Lebih fail lagi, uang seribuannya itu kucel, sudah disolatip.

Juniorku yang turun di simpang saja bayarnya Rp 3000 + dicaci-maki, apalagi aku yang akan turun di Dago Pojok? Lima ribu? bisa dipakai bolak-balik Cimahi ini sih! Pikirku dalam hati, lalu menyiapkan rangkaian umpatan kalau-kalau si supir angkot menagih tambahan dariku. Supir-supir angkot lain tidak pernah meminta tambahan jika aku membayar sekian, bahkan jika aku membayar lebih pasti akan dikembalikan dengan jumlah yang pas. Samar-samar, Dago Pojok tujuanku sudah terlihat dan aku bersiap turun dengan wajah, tangan, suara, dan hati yang “on fire”.

Namun, entah mengapa suaraku menjadi lembut saat berkata, “Pak, turun di Dago Pojok ya.”
Entah dari mana pula, tanganku mengulurkan ongkos itu dengan perlahan sambil berkata,”Uangnya kurang gak, Pak?”
Dan entah bagaimana, sepertinya, kurasa, aku tersenyum.
Serangkaian umpatan yang sudah kusiapkan hilang begitu saja. Si bapak supir memandang aku sebentar, lalu melihat ongkos yang kuberikan (jelas kalau itu tiga ribu rupiah), lalu berkata, “Sudah, Neng.”
“Terimakasih, Pak.” What?? bahkan aku mengatakan terimakasih pada si bapak yang tadinya sudah ingin aku jitak kepalanya dari kursi belakang supir, tempat aku duduk.

Ya, aku rasa Roh Kudus bekerja saat itu. Dia mengalirkan luapan kasihnya sehingga aku tidak marah. Sehingga aku tidak emosi. Sehingga aku bisa membuat bapak supir (mungkin) merasa damai dan tidak memaki aku walaupun ongkos yang aku bayarkan seharusnya kurang bagi dia. Di sepanjang jalan menuju ke tempat persekutuan, ada sesuatu yang menghantam dadaku, entah apa. Yang pasti aku menahan air mata. Sepertinya penyesalan. Kenapa tadi aku sempat berpikir untuk membalas emosi dengan emosi? Untungnya Tuhan masih mengingatkan aku dan membiarkan Roh Kudus memasuki hatiku untuk menahan emosi dan justru mengeluarkan kasih dalam pengujian ini.

“Jangan membalas api dengan api, tapi balaslah dengan siraman Roh Kudus.”

Thanks, Lord🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s