Cerita Anak Magang #2 : Apotek + UGD

Bapak pemilik apotek tempat aku bekerja memiliki 3 apotek. Apotek besar, sedang, dan kecil. Cerita minggu lalu itu saat aku ditempatkan di apotek sedang. Minggu ini, hari ini, aku ditempatkan di apotek kecil. Karena kecil, persediaan macam obatnya lebih sedikit, lebih sempit, juga lebih sepi. Ngantuknya.. POL! Untung ada mbak-mbak karyawan sana dan Kak Fiki (mahasiswa profesi apoteker yang sedang magang juga) yang jadi teman mengobrol dan ketawa-ketiwi.

Tiba-tiba, di siang hari yang panas dan silau. Seorang mbak-mbak datang ke apotek.

“Mbak, mau beli alkohol, kassa, plester.. ah pokoknya semua yang dipakai buat mengobati luka!” katanya agak panik dan gelisah. Aku, kak Fiki, dan Tita (karyawan apotek) segera mengambilkan semuanya.
“Kalau mbaknya yang ngobatin, bisa gak?” Kata mbak itu lagi, kepada Teh Widya, karyawan apotek itu.
“Wah, saya suka gak tega sih. Memangnya lukanya seperti apa?” tanya Teh Widya, kami semua memperhatikan mbak itu, karena tidak ada luka di tubuhnya.

Dari luar, ada pemuda yang sedang duduk di motor. Mukanya panik juga, sepertinya teman mbak itu.
“Iya mbak, bisa sekalian ngobatin gak? saya udah pusing nih!” Kata mas-mas itu.

Ternyata dia yang terluka. Kami panggil saja ke dalam, daripada dia pingsan. Ternyataaa… Kaki kiri dan sendalnya sudah penuh darah. Saat dia masuk untuk menumpang cuci kaki di toilet kami, lantai penuh jejak kaki merah darah. Setelah dia mencuci kaki, dipersilakan duduk di kursi tunggu. Aku dan Tita segera melaksanakan P3K seadanya, maklum kami belum pernah ikut pelatihan medik apapun. Dulu waktu kecil pernah sih, jadi dokter kecil. Tapi waktu TK. 16 tahun yang lalu. -_-

Darah kami bersihkan dengan kapas dan sejenis alkohol. Terlihat kalau sobekan di telapak kakinya itu cukup besar dan darah terus mengalir seperti susu kental manis coklat keluar dari lubang kalengnya. #apasih. Mas-mas itu berkali-kali bertanya, ini kenapa darahnya mengucur terus? kenapa.. kenapa.. soalnya dia tidak pernah berdarah seheboh itu katanya. Ya, alasannya karena mungkin saja pembuluh darah yang agak besar terpotong,  mungkin didukung juga dengan kondisi darah si mas yang encer. Kan tiap orang beda-beda juga waktu perdarahannya. Ada yang lama masih mengucur, ada yang sebentar saja darah sudah berhenti dan lukanya merapat.

Satu pak kasa steril habis, dan akhirnya setelah ditekan sedikit lama, darah tidak terlalu deras, namun masih mengalir keluar. Kami tutup luka dengan perban dan plester, lalu menyarankan mas-mas itu untuk cari minum dan segera ke dokter, siapa tahu butuh dijahit.

Ternyata, bekerja di apotek juga harus siap sedia dengan keadaan darurat seperti itu. Intinya, perbanyak ilmu karena sebagai tenaga kesehatan, kita dituntut tidak hanya dalam hal teori, namun juga praktek dan aplikasinya dalam kehidupan manusia.

Selain ucapan terimakasih dan “jempol”, kami diberi oleh-oleh peninggalan mas-mas tersebut. Cap darah berbentuk kaki di keset-keset apotek kami. Ahh.. -_- Terimakasih, mas. Semoga lekas sembuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s