Cerita Anak Magang #1: Selalu Ada Alasan Untuk Tertawa :D

Selama liburan semester ini, aku magang di sebuah apotek kota Bandung. Aku dan 2 temanku, Epin dan Felis, sudah diperingatkan oleh bapak-bapak yang punya apotek: “Kalau di tengah jalan kamu merasa tidak berminat lagi, tinggalkan. Jangan lakukan apa yang kamu tidak suka!” Ya, karena bekerja di apotek adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Cek pembelian, lihat stok opname, memasukkan obat-obat ke lemarinya, menyapa pasien, berlari ke belakang mengambil obat, membungkus obat dengan plastik, menerima uang, memberi kembalian, dan mengucapkan “terimakasih, semoga cepat sembuh”.

Sampai-sampai, itu semua menjadi sebuah alur gerakan refleks. Saat aku dan Felis sedang makan malam di sebuah warung tenda dekat apotek sepulang kerja, datang seorang pengamen. Setelah dia menyanyikan lagu seadanya, aku memberikan sekeping koin 500 rupiah sambil berkata “terimakasih.. eh..” *awkward moment* Dan meledaklah tawa aku dan Felis. Ucapan terimakasih itu otomatis mengalir saat saya memberikan receh, akibat kejadian perulangan saat memberikan uang kembalian pada pasien di apotek -_-

Walaupun membosankan, ditambah tugas yang cukup banyak seperti melayani di OTC, membuat rekap perencanaan pemesanan obat selama bulan puasa, membuat bagan SOP apotek, merangkum undang-undang ini-itu, aku dan kedua temanku tetap bertahan di apotek ini. Kenapa? Karena selalu ada alasan untuk tertawa, sambil belajar tentunya.😀

– – – – –

Suatu hari, aku menjaga counter bersama Ibu Lilis (asisten apoteker) dan Kak Nelly (mahasiswa program apoteker yang sedang magang juga). Seorang ibu datang membawa kemasan-kemasan obat kosong, meminta obat yang sama. Sambil menunggu, beliau bercerita tentang anaknya yang baru disunat 5 hari lalu. Lukanya tidak kunjung sembuh, apa karena sunatnya manual, bukan pakai laser? Ibu itu meminta saran pada bu Lilis yang disangka dokter karena menggunakan jas kerja putih😛

“Memangnya lukanya basah seperti apa bu? dulu anak saya memang basah gitu tapi setelah dibasuh dengan betadine lama-lama kering sendiri dalam beberapa hari..” kata bu Lilis.

“Basah gitu dok, saya sampai ngeri.. Nak! sini nak!” Ibu itu mendadak memanggil anaknya, dan anaknya segera datang sambil memegang celananya. Hahahaha sumpah ini bikin ngakak :3 Tak pakai ba-bi-bu, si ibu langsung membuka celana anaknya, memperlihatkan “you-know-what” ke kami semua. Ya, di depan counter. Kak Nelly langsung sembunyi di balik kaca pajangan jamu.

Intinya:
Farmasis, juga pegangan bagi pasien. Jangan anggap remeh peranmu dengan absen di apotek, rumah sakit, industri, atau dimanapun kamu ditempatkan. Lot of knowledges, lot of responsibilities.

– – – – –

Another story. Aku bersama Tresna, seorang asisten apoteker baru yang masih sangat muda, sedang menjaga counter. Dari ruang karyawan di belakang, Kak Panca (asisten apoteker juga) berkata,”Nanti kalau ada yang tanya obat batuk, saranin pakai W***s ya, soalnya lagi ada promo voucher makan!” Baiklah.

Hanya selang 1 menit setelahnya, seorang mbak berhelm datang.

“Mbak, mau lihat obat B******n dong, yang batuk berdahak.” katanya sambil menunjuk ke rak kaca. Aku mengambilkan, setelah itu dia bertanya:
“Tapi saya masih coba-coba nih. Obat batuk yang bagus apa ya mbak, selain ini?” tanya dia.
Serentak aku dan Tresna saling berpandangan, dan menjawab, “W***s!”

Ternyata, mbak itu adalah agen rahasia produk obat batuk tersebut, yang sedang keliling apotek dan melihat siapa karyawan yang menyarankan produknya, akan diberi voucher makan. Kami diminta menandatangani form, lalu berfoto bersama voucher & produknya. Lumayaaan :p

Intinya:
Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi, mungkin bukan agen W***s yang datang, tapi bisa saja agen lainnya. Yang harus kamu lakukan, selalu berikan saran terbaik bagi pasien. They trust in you.

– – – – –

Biasanya di jam-jam petang menjelang malam, kejadian-kejadian di apotek banyak yang aneh-aneh. Seorang pria muda, berkacamata hitam, mobilnya bagus berpelat F *sama kayak mobil papa di rumah. #eh*

Datang masuk ke apotik dan tersenyum malu, “mbak, ada viagra?”
“Ada mas. Mau berapa?” Tanyaku awkward, tetap berusaha memasang wajah sedatar mungkinkarena belum biasa menerima pembelian obat macam begini.
“Satunya berapa?”
Aku mengecek sebentar di komputer, dan terkejut sendiri. “128.000 satu tablet”.
Akhirnya dia beli satu tablet. 

Persis keesokan harinya di jam yang sama, masih dengan wajah yang sama. Namun kali ini, dia berhadapan dengan Ibu Lilis.

“Ibu, ada viagra?” suaranya agak dipelankan, sambil menoleh kiri kanan, mungkin takut kedengaran. Daaaaan… jengjeeeng. Dia melihat aku sedang melongo sambil melihat dia. Senyum awkward terjadi. Aku hanya berpikir dalam hati. Gila, tekor juga kalau tiap malam keluar 128.000 cuma buat sebutir tablet.

Intinya:
Hemat, bung!

– – – – –

Dengan agak kesal Pak Shako, salah satu asisten apoteker yang bekerja disana juga, kembali ke ruang penyimpanan obat & ruang istirahat karyawan sambil memegang sirup obat batuk yang tidak jadi dibeli pasien.

“Kalau cari sirop yang enak mah sirop ABC, jangan sirop obat!” katanya dengan logat Sunda-nya.

*ngakak mode – on*

Intinya:
Kalau mau yang enak, jangan sakit ya🙂

– – – – –

Bapak Hizkia Ahmad datang ke apotek! 2 hari berturut-turut. Akhirnya aku bisa berkenalan dengan bapak hebat satu ini, yang sebelumnya hanya aku kenal dari buku-buku Kimia yang dia terbitkan. Namanya sangat terkenal di ITB, terutama kalangan TPB menjelang ujian. Walau sudah berumur 81 tahun, tapi masih semangat dan kuat. Berjalan sendirian ke apotek, tahan berdiri lama demi mengobrol ramah dan berkenalan dengan  para mahasiswa yang magang disana. Makin kagum jadinya🙂

Intinya:
Bagaikan padi, semakin berisi semakin merunduk.

– – – – –

Itu hanya sedikit dari banyak kejadian menarik di tempat magang, yang terjadi selama 1 minggu lebih. Tentu akan ada banyak lagi balada anak magang, karena aku akan magang selama 2 bulan disana. Tunggu saja kisah selanjutnya ya. ^^

2 thoughts on “Cerita Anak Magang #1: Selalu Ada Alasan Untuk Tertawa :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s