Resolusi untuk Indonesia

Selamat tahun baru! ^^

Di tahun yang baru ini, orang ramai-ramai mencari resolusi barunya. Termasuk aku mungkin, hehehe. Salah satu resolusiku tahun ini : Piara ikan hias! Hahaha.. aneh memang, tapi sudah lama aku ingin melakukannya. Di kesempatan liburan kemarin, akhirnya dibelilah sebuah akuarium bulat. Semoga bisa terwujud ya!🙂

Sesungguhnya bukan masalah ikan yang ingin aku sampaikan kali ini. Tapi tentang resolusi, yang menyangkut perilaku masyarakat Indonesia. Mumpung tahun baru, yuk kita lihat kasus yang terjadi pada masyarakat Indonesia dalam perayaan tahun baru kali ini.

Car Free Night. Momen tahun baru diisi oleh kegiatan tersebut di berbagai kota. Sebut saja Jakarta, Bandung, dan kota asalku, Sukabumi. Acara tahun baru yang meriah, disambut dengan senang oleh warga sekitar. Berbondong-bondong mereka memenuhi kawasan car free night tersebut. Setelah semua terhibur dengan berbagai acara pentas musik dan kembang api, tinggallah para bapak-bapak kebersihan menyapu jalanan yang penuh dengan sampah. Apalagi, saat itu hujan. Becek, lumpur dimana-mana. Melihat mereka lewat layar televisi, aku jadi kasihan. Kebetulan yang aku lihat adalah berita interaktif, dimana si penelepon dapat mengungkapkan pendapatnya.

“Orang mungkin tidak sadar akan perbuatannya. Dia merasa hanya membuang sampah sedikit saja, hanya selembar plastik atau botol minuman yang beratnya hanya beberapa gram saja. Namun mereka tidak sadar kalau disana ada berjuta-juta orang yang jika setiap orangnya melakukan hal yang sama, berapa sampah yang terkumpul? Pantas saja sampah-sampah sisa tahun baru menggunung.”

Aku setuju dengan pendapat bapak itu. Masyarakat Indonesia kurang kesadaran! Sepertinya ada yang salah dengan peraturan di negeri ini. Peraturan yang ada justru dilanggar. Car free night. FREE. Tapi masih ada saja mobil-mobil atau angkutan umum yang melanggar. Sudah ada tempat sampah, masih buang sembarangan, bahkan tempat sampahnya diborong juga. Antrian ini itu kacau, malah marah-marah tidak sabaran. Dilarang mengemis, masih ada juga. Bahkan ada yang sampai membawa bayinya hujan-hujanan untuk mengemis di tengah jalan. Aneh. Bukannya jadi kasihan dan memberi uang, kita justru jadi kesal pada ibunya. Dilarang menginjak rumput, malah papan peringatannya dipakai foto-foto (ini pernah aku lakukan, hehehe). Masih banyak lagi contoh pelanggaran hal-hal yang mudah dan ringan di Indonesia.

Pengemis membawa bayinya

Pengemis membawa bayinya

Sementara itu, bibiku yang baru pulang dari Singapore untuk merayakan tahun baru disana bercerita bahwa disana banyak sekali orang Indonesia yang juga berlibur (gak aneh lah ya). Dan, disana orang-orang Indonesia justru dapat mengikuti aturan dengan baik. Antri, tidak makan atau minum sembarangan, apalagi buang sampah sembarangan. Aturan di sana memang ketat, dendanya tinggi dan banyak petugas maupun kamera pengawas di mana-mana. Apakah ini yang dibutuhkan masyarakat Indonesia? Peraturan yang lebih kejam lagi?

Antri

Antri

Coba kita mulai dengan diri sendiri. Tidak sulit kok, untuk mengikuti aturan yang ada. Semuanya kalau dilakukan dengan pengertian dan kesadaran pasti negeri kita bisa lebih baik lagi. Mungkin kita berpikir kalau kondisi seperti di Singapore itu sangat jauh buat kita capai. Namun kalau kita hanya berpikir masih jauh, masih jauh, masih jauh, dan tidak memulai satu langkahpun, kapan sampainya?

Mari jadikan langkah ini sebuah resolusi dalam daftar tekad kita di tahun yang baru. Semangat!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s