Efek Samping dan Toksisitas Obat

farmasi, obatBanyak data lapangan yang menyatakan bahwa kegagalan kesembuhan pasien bukan dikarenakan penyakitnya, tetapi karena kesalahan pengobatan (medication error). Menurut G. Kuschinsky, obat yang tidak memiliki efek samping kemungkinan tidak memiliki efek utama. Nahloh, jadi gimana? Lebih baik tidak meminum obat karena efek samping dan hanya berharap pada sang sistem imun, atau meminum obat demi kesembuhan dengan risiko terkena efek samping?

Tentu kita harus melihat Risk-Benefit Ratio, yaitu suatu perbandingan efek negatif dan positif obat tersebut bagi keadaan tubuh kita.

Ngomong-ngomong soal efek samping, sifat efek samping itu berbeda-beda. Bisa efek yang diharapkan atau tidak, dapat diramalkan atau tidak, tergantung pada dosis atau tidak, serta berupa efek berat atau ringan. Umumnya, efek samping obat itu berupa :

  • Alergi
  • Gangguan pada kulit (ruam, bentol-bentol, gatal)
  • Gangguan pencernaan (diare, mual, muntah)
  • Gangguan sistem saraf (pusing, vertigo)
  • Gangguan kardiovaskular (jantung berdebar, hipotensi, hipertensi)
  • Gangguan saluran pernafasan (sesak nafas)

Efek samping umum seperti ini tidaklah berbahaya jika obat memang dikonsumsi dalam dosis/jumlah yang tepat, serta tidak menimbulkan sensitivitas tertentu pada pasien. Namun, obat bisa juga memberikan efek toksik (racun) bagi orang-orang tertentu. Misalnya :

  • Ibu hamil dan menyusui (laktasi), hal ini berkaitan dengan ada tidaknya efek teratogenik (berbahaya bagi janin) pada obat untuk ibu hamil. Karena obat yang sifatnya lipofil dapat menembus plasenta dan memberikan pengaruh pada bayi. Selain itu, obat juga  bisa tersalurkan lewat ASI yang diminum oleh bayi. Maka, bagi ibu hamil dan menyusui haruslah memperhatikan keterangan obat yang hendak dikonsumsi, apakah aman atau tidak bagi janin/bayi. Bila perlu, konsultasikan ke dokter atau apoteker.
  • Pediatri (anak), hal ini berkaitan dengan kondisi sistem tubuh anak yang belum sempurna baik fisik maupun enzim-enzim yang berperan dalam interaksi obat. Maka, dosis anak dan dewasa seringkali dibedakan.
  • Geriatri (lanjut usia), pada pasien geriatri, kondisi tubuh termasuk organ-organnya mengalami penurunan fungsi akibat usia lanjut. Maka, dosis obatnya pun harus diperhatikan.
  • Pasien dengan gangguan organ tertentu, terutama hati dan ginjal, yang berperan dalam metabolisme obat dan ekskresi (pembuangan) obat dalam tubuh. Jika organ-organ ini terganggu, dosis juga harus diperhatikan agar tidak berbahaya.

Perlu diperhatikan juga penggunaan obat bersama obat lain, serta makanan/suplemen lain. Obat yang satu bisa berefek terhadap obat yang lain. Maka, jika menggunakan beberapa obat, sebaiknya dikonsultasikan dahulu kepada apoteker agar tidak terjadi kesalahan interaksi obat yang menurunkan efek obat hingga tidak berefek maupun meningkatka efek obat terlalu drastis sehingga menjadi toksik. Selalu perhatikan pula dosis yang diberikan dan cara menggunakannya yang tepat, sehingga obat dapat bekerja dengan baik sesuai dengan harapan, bukan menjadi racun bagi tubuh kita.🙂

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s