Pengorbanan Terbesar

Image

Saat kuliah semester ke empat, saya diberi kepercayaan untuk menjadi ketua divisi dekorasi dalam sebuah acara syukuran wisuda. Seminggu sebelum acara berlangsung, saya berniat untuk mengerjakan kembali properti-properti dekorasi yang baru selesai 50%. Malam sebelumnya, saya memberikan informasi kepada semua anggota divisi saya untuk datang pagi-pagi keesokan harinya untuk mendekor.

Pagi harinya, beberapa pesan masuk ke ponsel saya, empat anggota saya tidak bisa datang karena sakit dan alasan lainnya. Saya pikir tidak apa-apa, toh masih banyak anggota saya yang lainnya. Saya pun pergi ke kampus untuk mendekor. Dua jam lebih saya menunggu sambil mendekor sendirian, namun tak satupun orang datang. Saya malah jadi bulan-bulanan pekerja bangunan yang bolak-balik di tempat saya bekerja. Saya merasa tidak nyaman, belum lagi saya tidak sarapan dan kurang sehat karena kehujanan semalam. Akhirnya, saya mengirimkan pesan lagi kepada semua anggota saya bahwa dekor ditiadakan karena tidak ada yang konfirmasi dan saya sudah menunggu lama dan harus pergi untuk beribadah, karena hari itu adalah hari Jumat Agung.

Di jalan pulang, saya kesulitan mencari angkot. Akhirnya terpaksa saya pulang jalan kaki. Di perjalanan, saya benar-benar marah. Mungkin orang-orang yang melintasi saya dapat melihat wajah saya memerah karena kesal. Anggota saya beralasan sakit karena tidak bisa datang. Saya juga sakit! Ada yang bilang ada urusan. Saya juga ada urusan! Ada yang alasan ke gereja. Saya juga harus ke gereja, tapi masih menyempatkan diri! Saya benar-benar kesal, dan berpikir bahwa itu hari tersial saya. Saya kemudian bergumam, awas saja kalau di gereja nanti saya sial lagi!

Baru berpikir seperti itu, saya teringat. Hari ini hari Jumat Agung. Yesus mengorbankan nyawa-Nya untuk dosa-dosa manusia. Ya Tuhan, mengapa saya begitu egois? Mungkin sebagai ketua divisi, saya berkorban banyak waktu, tenaga, dan materi. Tapi apalah artinya itu dibandingkan pengorbanan Yesus di kayu salib? Saya baru rugi 2 jam saja dan sudah marah-marah sepanjang jalan dan mengutuki agnggota saya satu-persatu. Tapi Yesus? Dia berkorban nyawa, demi kesalahan-kesalahan kita, dan Dia tidak pernah mengutuk kita karena perbuatan kita. Dia justru menerima kita dengan kasih-Nya. Saya tersadar. Saya salah. Seharusnya saya tidak perlu marah-marah sampai seperti ini.

Di hari Jumat Agung ini, saya diingatkan kembali mengenai kesabaran dan pengorbanan Kristus untuk seluruh umat-Nya. Sebagai salah satu dari semua orang yang ditebus-Nya, maukah kita mengikuti jejak-Nya, sabar dan mengampuni? Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s