Belajar dari Anak Kecil

“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

Matius 18 : 21b


Suatu hari, aku iseng-iseng melihat-lihat album foto keluarga. Di situ ada sebuah foto jadul yang menggambarkan aku dan abangku berdiri berdampingan. Dalam foto itu terlihat bahwa lengan kiri abangku terbungkus kain kasa, tapi wajah kami yang masih imut itu tetap terlihat ceria.

Ceritanya 16 tahun lalu, saat abangku masih TK dan aku belum sekolah, seorang teman berbadan besar mendorongnya sampai  jatuh. Akibatnya, lengan kirinya patah dan harus digips. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Keesokan harinya, temannya itu dengan takut-takut meminta maaf kepadanya. Abangku tanpa pikir panjang segera mengulurkan tangan kanannya yang terkepal. Temannya berpikir kalau ia akan dipukul. Tetapi kemudian, kelingking di tangan kanan abangku membuka, membentuk posisi “pacantel”. Dengan hati lega, temannya itu menyambutnya dengan mengaitkan kelingkingnya di kelingking abangku. Setelah “ritual” memaafkan selesai, mereka pun kembali akrab tanpa dendam.

Dalam Matius 18 : 21-35 diceritakan perumpamaan tentang seorang raja melepaskan hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta padanya karena belas kasihan. Namun hamba ini malah menagih hutang ke orang lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Karena tidak bisa membayar hutangnya, orang ini ia jebloskan ke penjara. Melihat hal ini, kawan-kawan lain merasa sedih lalu melaporkannya kepada raja. Raja pun marah karena hamba itu tidak mau mengasihani kawannya seperti sang raja mengasihani dia. Akhirnya, hamba itu diserahkan kepada algojo sampai ia bisa melunasi hutangnya.

Allah dilambangkan sebagai raja, kita sebagai hamba yang berhutang 10.000 talenta, sedangkan hutang melambangkan dosa kita. Dalam kamus alkitab, 1 talenta setara dengan 6000 dinar. Berarti, hutang si hamba sangat besar dibandingkan hutang temannya yang hanya 100 dinar. Bayangkan Allah rela mengampuni kita yang dosanya banyak, tapi kita sendiri seringkali tidak mau memaafkan saudara kita yang bersalah sedikit saja kepada kita. Yesus telah mengajarkan berbagai macam pelajaran tentang mengampuni. Namun kita orang Kristen terkadang masih sulit untuk mengampuni. Bahkan seringkali kita bermuka dua, di luar kelihatannya sudah memaafkan, ternyata di dalamnya masih dongkol!

Nah, melalui cerita masa kecil abangku itu, aku mau mengajak saudara-saudara sekalian untuk belajar dari anak kecil. Mereka tulus, mau memaafkan tanpa dendam. Kita yang lebih dewasa seharusnya lebih pengertian. Jangan menghindar atau menghakimi. Marilah kita mencontoh hati anak kecil yang polos. Mulailah bersabar dan mencoba memaafkan orang lain. Ingat,  kalau anak kecil saja bisa, kenapa kita tidak?

Tuhan memberkati.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s